
Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Muhammad Yunus, Gramedia, 280 hal
Banyak aktor terlibat dan tampil dengan aneka program antikemiskinan. Ada pemerintah, lembaga internasional, swasta, hingga organisasi nirlaba. Tapi sampai saat ini, berbagai upaya menghapus masalah kemiskinan hasilnya masih jauh dari memuaskan.
Akhir-akhir ini, harapan baru mengangkat nasib kaum miskin mulai dibebankan ke pundak swasta lewat gerakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun, tak perlu menanti lama untuk menyaksikan mandulnya konsep yang dibangun atas niat baik ini. Perusahaan sesungguhnya hanya peduli pada citra diri, sementara misi sucinya tetaplah memaksimalkan keuntungan. Oleh sebab itu, mustahil korporasi berada di garis depan dalam peperangan melawan kemiskinan.
Dalam situasi seperti ini, kita mungkin perlu menengok pendekatan lain. Dalam buku ini, Muhammad Yunus yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2006, menawarkan model “bisnis sosial” untuk melayani banyak kepentingan kaum miskin.
Tapi, bukankah Muhammad Yunus amat berhasil dengan program kredit mikro? Ya. Rupanya, komitmen Yunus tidak berhenti di situ. Ia amat menyadari betapa banyak permasalahan orang miskin yang tidak mungkin diatasi hanya dengan mengandalkan kredit mikro.
Maksimalisasi Manfaat Sosial
Dalam gagasan Yunus, bisnis sosial merupakan bisnis murni. Operasinya harus mampu menutupi seluruh biaya dan menghasilkan keuntungan. Bedanya dengan perusahaan biasa, bisnis sosial didesain secara khusus untuk memecahkan masalah sosial. Sementara itu, keunggulannya dibanding organisasi nirlaba, bisnis sosial akan mampu menghidupi sendiri (self-sustaining) dan juga mengembangkan diri (self-expanding).
Bisnis sosial membutuhkan investor, karena itu tidak mengandalkan sumbangan para dermawan. Investor akan mendapatkan kembali modal yang disetornya, tetap menjadi pemilik perusahaan, tetapi tidak akan pernah mendapatkan dividen (non-loss, non-dividend business). Yang unik dalam bisnis ini, setiap keuntungan akan dipergunakan untuk modal ekspansi atau mengembangkan bisnis sosial lainnya.
Masalahnya, akankah orang tertarik dengan bisnis sosial? Yunus percaya, manusia merupakan makhluk multidimensi, yang tidak hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya tetapi juga memiliki kehendak menciptakan manfaat sosial dan melakukan kebaikan bagi manusia lainnya. Dia mencontohkan, kapitalis paling masyhur sekalipun seperti Andrew Carnegie, keluarga Rockefellers, hingga Bill Gates, akhirnya berpaling dari permainan keuntungan ke fokus pencapaian lebih luhur.
Karena itu, berbeda dengan Bank Grameen yang nasabah sekaligus pemegang sahamnya adalah orang miskin, dalam bisnis sosial yang diharapkan terlibat adalah pemilik kekayaan yang berjiwa sosial dan berbisnis tidak semata-mata untuk menumpuk laba pribadi. Termasuk pula di dalamnya adalah yayasan, donor pembangunan bilateral, badan pemerintah, maupun kaum pensiunan.
Dalam cita-cita Yunus, bahkan nantinya, bisa diciptakan pasar saham sosial (social stock market) yang akan memudahkan orang berinvestasi pada bisnis sosial. Yang jelas, keuntungan dari bisnis sosial, uang tak akan menguap meski dimanfaatkan guna kepentingan sosial.
Namun, tidak seperti dalam kredit mikro, saat ini bisnis sosial memang masih dalam tahap awal. Bisnis sosial pertama yang diceritakan Muhammad Yunus di buku ini bernama Grameen Danone. Berdiri pada 2007, perusahaan ini menjadi produsen makanan bergizi untuk anak-anak miskin dengan harga terjangkau. Ini merupakan hasil usaha patungan dengan produsen makanan raksasa Danone asal Prancis.
Bisnis sosial lain yang sudah dibangunnya adalah beberapa rumah sakit mata. Ini merupakan tipe kedua bisnis sosial, yakni fungsinya tidak hanya melayani orang kurang mampu. Justru dengan memberikan pelayanan profesional kepada orang berduit, bisnis sosial bisa bekerja dengan memberikan subsidi silang kepada orang miskin.
Muhammad Yunus juga menolak jika berbagai kemalangan di dunia ini kemudian ditimpakan sebabnya semata pada “kegagalan pasar”. Dalam benaknya, bisnis sosial bahkan bisa menyediakan “public good”. Sekelompok investor misalnya, bisa mendanai pembangunan jembatan untuk membuka isolasi ekonomi dan sosial sebuah daerah. Untuk pengembalian modal, masyarakat dikenakan tarif menyeberang sesuai kemampuan ekonominya.
Inti dari bisnis sosial adalah komitmen mengurai masalah kemiskinan. Sifat komersialnya tidak lagi untuk kemakmuran pemilik modal, melainkan maksimalisasi pada manfaat sosialnya. Lewat bisnis sosial ini, Yunus berharap, dunia tanpa kemiskinan bisa lebih cepat diwujudkan.
Manusia Satu Dimensi
Kapitalisme yang berjaya saat ini, disebutnya sebagai “konstruksi setengah jadi”. Yunus mengecam keyakinan dan asumsi bahwa manusia hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Karena itu, dia mengkritik teori ekonomi yang menekankan bahwa mengejar keuntungan merupakan cara terbaik mencapai kebahagiaan umat manusia.
Tapi penting dicatat, Muhammad Yunus bukanlah seorang radikal kiri ketika berbicara masalah kemiskinan. Dia justru percaya pada potensi pasar bebas dan globalisasi. Namun menurutnya, pasar tanpa batas seperti sekarang ini tak dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah sosial. Globalisasi sebagai prinsip umum bisnis memang dapat memberi manfaat kepada orang miskin. Namun, tanpa pengawasan dan pengarahan, globalisasi justru berpotensi jadi sangat merusak.
Komitmen Muhammad Yunus terhadap kemiskinan jelas tidak diragukan lagi. Namun, seperti upaya lainnya, bisnis sosial tak akan nyata memperbaiki nasib kaum miskin jika tak banyak yang menyambut gagasan tersebut.
Berikan rating untuk buku ini 



(1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ...