Jajan Buku Podcast (JBP 01): Jalan-Jalan Hemat

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

jalan jalan hematPada episode pertama ini, Jajan Buku Podcast (JBP) mengulas secara ringkas 3 buah buku: Travelicious Lombok dan Travelicious Yogya-Solo (B-First) dan The Journeys (Gagas Media). Saya jajan travelicious karena waktu itu mau jalan-jalan dan kebetulan di toko buku mendapatkan kedua buku tersebut.

Dua buku travelicious merupakan panduan wisata yang ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya melakukan perjalanan selama beberapa hari di Yogya-Solo dan Lombok. Buku tersebut memberikan alternatif obyek wisata, pilihan transportasi, tempat menginap dan juga tempat makan.

Sedangkan The Journeys diklaim sebagai travelogue. Ada 12 penulis yang bercerita di situ, kebanyakan mengisahkan perjalanan di luar negeri.

Semua buku tersebut merupakan referensi yang bagus bagi mereka yang doyan jalan-jalan. Karena taglinenya jalan hemat, buku-buku travelicious, sangat pas buat mereka yang mau bekpekeran. Sedangkan untuk The Journeys ulasannya bisa dibaca di sini.

Podcast ini juga bisa diunduh (download) melalui tautan ini.

Bisnis untuk Kaum Miskin

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan, Muhammad Yunus, Gramedia, 280 hal

Banyak aktor terlibat dan tampil dengan aneka program antikemiskinan. Ada pemerintah, lembaga internasional, swasta, hingga organisasi nirlaba. Tapi sampai saat ini, berbagai upaya menghapus masalah kemiskinan hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Akhir-akhir ini, harapan baru mengangkat nasib kaum miskin mulai dibebankan ke pundak swasta lewat gerakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun, tak perlu menanti lama untuk menyaksikan mandulnya konsep yang dibangun atas niat baik ini. Perusahaan sesungguhnya hanya peduli pada citra diri, sementara misi sucinya tetaplah memaksimalkan keuntungan. Oleh sebab itu, mustahil korporasi berada di garis depan dalam peperangan melawan kemiskinan.

Dalam situasi seperti ini, kita mungkin perlu menengok pendekatan lain. Dalam buku ini, Muhammad Yunus yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2006, menawarkan model “bisnis sosial” untuk melayani banyak kepentingan kaum miskin.

Tapi, bukankah Muhammad Yunus amat berhasil dengan program kredit mikro? Ya. Rupanya, komitmen Yunus tidak berhenti di situ. Ia amat menyadari betapa banyak permasalahan orang miskin yang tidak mungkin diatasi hanya dengan mengandalkan kredit mikro.

Maksimalisasi Manfaat Sosial

Dalam gagasan Yunus, bisnis sosial merupakan bisnis murni. Operasinya harus mampu menutupi seluruh biaya dan menghasilkan keuntungan. Bedanya dengan perusahaan biasa, bisnis sosial didesain secara khusus untuk memecahkan masalah sosial. Sementara itu, keunggulannya dibanding organisasi nirlaba, bisnis sosial akan mampu menghidupi sendiri (self-sustaining) dan juga mengembangkan diri (self-expanding).

Bisnis sosial membutuhkan investor, karena itu tidak mengandalkan sumbangan para dermawan. Investor akan mendapatkan kembali modal yang disetornya, tetap menjadi pemilik perusahaan, tetapi tidak akan pernah mendapatkan dividen (non-loss, non-dividend business). Yang unik dalam bisnis ini, setiap keuntungan akan dipergunakan untuk modal ekspansi atau mengembangkan bisnis sosial lainnya.

Masalahnya, akankah orang tertarik dengan bisnis sosial? Yunus percaya, manusia merupakan makhluk multidimensi, yang tidak hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya tetapi juga memiliki kehendak menciptakan manfaat sosial dan melakukan kebaikan bagi manusia lainnya. Dia mencontohkan, kapitalis paling masyhur sekalipun seperti Andrew Carnegie, keluarga Rockefellers, hingga Bill Gates, akhirnya berpaling dari permainan keuntungan ke fokus pencapaian lebih luhur.

Karena itu, berbeda dengan Bank Grameen yang nasabah sekaligus pemegang sahamnya adalah orang miskin, dalam bisnis sosial yang diharapkan terlibat adalah pemilik kekayaan yang berjiwa sosial dan berbisnis tidak semata-mata untuk menumpuk laba pribadi. Termasuk pula di dalamnya adalah yayasan, donor pembangunan bilateral, badan pemerintah, maupun kaum pensiunan.

Dalam cita-cita Yunus, bahkan nantinya, bisa diciptakan pasar saham sosial (social stock market) yang akan memudahkan orang berinvestasi pada bisnis sosial. Yang jelas, keuntungan dari bisnis sosial, uang tak akan menguap meski dimanfaatkan guna kepentingan sosial.

Namun, tidak seperti dalam kredit mikro, saat ini bisnis sosial memang masih dalam tahap awal. Bisnis sosial pertama yang diceritakan Muhammad Yunus di buku ini bernama Grameen Danone. Berdiri pada 2007, perusahaan ini menjadi produsen makanan bergizi untuk anak-anak miskin dengan harga terjangkau. Ini merupakan hasil usaha patungan dengan produsen makanan raksasa Danone asal Prancis.

Bisnis sosial lain yang sudah dibangunnya adalah beberapa rumah sakit mata. Ini merupakan tipe kedua bisnis sosial, yakni fungsinya tidak hanya melayani orang kurang mampu. Justru dengan memberikan pelayanan profesional kepada orang berduit, bisnis sosial bisa bekerja dengan memberikan subsidi silang kepada orang miskin.

Muhammad Yunus juga menolak jika berbagai kemalangan di dunia ini kemudian ditimpakan sebabnya semata pada “kegagalan pasar”. Dalam benaknya, bisnis sosial bahkan bisa menyediakan “public good”. Sekelompok investor misalnya, bisa mendanai pembangunan jembatan untuk membuka isolasi ekonomi dan sosial sebuah daerah. Untuk pengembalian modal, masyarakat dikenakan tarif menyeberang sesuai kemampuan ekonominya.

Inti dari bisnis sosial adalah komitmen mengurai masalah kemiskinan. Sifat komersialnya tidak lagi untuk kemakmuran pemilik modal, melainkan maksimalisasi pada manfaat sosialnya. Lewat bisnis sosial ini, Yunus berharap, dunia tanpa kemiskinan bisa lebih cepat diwujudkan.

Manusia Satu Dimensi

Kapitalisme yang berjaya saat ini, disebutnya sebagai “konstruksi setengah jadi”. Yunus mengecam keyakinan dan asumsi bahwa manusia hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Karena itu, dia mengkritik teori ekonomi yang menekankan bahwa mengejar keuntungan merupakan cara terbaik mencapai kebahagiaan umat manusia.

Tapi penting dicatat, Muhammad Yunus bukanlah seorang radikal kiri ketika berbicara masalah kemiskinan. Dia justru percaya pada potensi pasar bebas dan globalisasi. Namun menurutnya, pasar tanpa batas seperti sekarang ini tak dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah sosial. Globalisasi sebagai prinsip umum bisnis memang dapat memberi manfaat kepada orang miskin. Namun, tanpa pengawasan dan pengarahan, globalisasi justru berpotensi jadi sangat merusak.

Komitmen Muhammad Yunus terhadap kemiskinan jelas tidak diragukan lagi. Namun, seperti upaya lainnya, bisnis sosial tak akan nyata memperbaiki nasib kaum miskin jika tak banyak yang menyambut gagasan tersebut.

Berikan rating untuk buku ini 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ensiklopedia Milik Semua

Kisah Sukses Wikipedia

Kisah Sukses Wikipedia, Andrew Lih, Gramedia, 287 Hal.

Belum terlalu lama, ensiklopedia adalah sebuah barang mahal, sulit dibuat dan berbiaya besar, serta lebih banyak tersedia di perpustakaan. Namun sejak 2001, Wikipedia datang menerobos semua rintangan itu. Seperti dikemukan Andrew Lih, penulis buku ini, di banyak budaya dimana orang tidak menikmati insentif dari membuat sebuah ensiklopedia, Wikipedia menjadi ensiklopedia komprehensif satu-satunya yang tersedia.

Wikipedia Bahasa Indonesia sukses menembus artikel ke-100.000 awal tahun 2009. Di samping itu, masih ada Wikipedia dalam bahasa daerah Aceh, Banyumasan, Bugis, Jawa, dan Sunda, dengan koleksi ribuan hingga belasan ribu artikel. Semua dicapai berkat kolaborasi ribuan orang (meski dalam kenyataan puluhan saja yang aktif) yang berasal dari berbagai latar belakang, dan –hebatnya—mereka tidak menerima imbalan sepeser pun.

Wikipedia cepat meraih popularitas. Lima tahun sejak diluncurkan, Wikipedia sudah berada di tangga sepuluh besar situs web paling banyak dikunjungi di internet. Meski demikian, keliru jika mengganggap ensiklopedia online ini dirintis oleh para maniak komputer sebagaimana penemu Google dan Facebook.

Seperti diungkap Andrew Lih, ide mentah Wikipedia justru tercetus dari sebuah ruang diskusi (mailing list) filsafat. Awalnya adalah persentuhan antara Jimmy Wales, seorang doktor keuangan yang menyukai falsafah objektivisme, dan Larry Sanger, mahasiswa Ph.D dalam ilmu filsafat.

Dari segi gagasan dan teknologi, keinginan membuat ensiklopedia berbasis web sebetulnya sudah ada sejak 1990-an. Namun, wikipedia lah yang menemukan gagasan bagaimana mengorganisasikan sebuah komunitas. Maka bagi Jimmy Wales, Wikipedia sama sekali bukan inovasi teknologi, tapi merupakan sebuah inovasi sosial.

Jika diamati, memang Wikipedia melakukan dua hal radikal dalam menghimpun “semua pengetahuan yang berhasil dicapai oleh manusia”. Beda dengan pendahulunya seperti Encyclopedia Britannica yang menyusun sebuah ensiklopedia dengan cara yang ketat dan dilakukan oleh sekelompok pakar, sebaliknya Wikipedia tampil sebagai “ensiklopedia yang dapat disunting oleh siapa pun”.

Tidak hanya itu, Wikipedia juga mendobrak kearifan konvensional di internet bahwa segala sesuatu harus diamankan. Bermutu sama artinya dengan selektif dan membatasi siapa dapat bergabung dalam penyuntingan. Sebaliknya, seseorang dapat mengubah sebuah halaman Wikipedia, tanpa perlu terlebih dulu melakukan pendaftaran, tidak ada email, dan tidak ada bukti diri yang diminta.

Oleh karena itu, jika banyak situs populer lain harus bergelut dengan persoalan pelanggaran hak cipta atau masalah privasi, tantangan utama Wikipedia adalah bagaimana meningkatkan mutu informasi. Sebagai ensiklopedia terbuka, Wikipedia dikerjakan oleh para amatir dan karena itu dalam dirinya terdapat celah bagi orang berbuat fitnah atau iseng.

Sejak 2005, Wikipedia berupaya menangani serangan vandalisme dengan bergeser sedikit dari pakem dasarnya. Fitur semi-protection mulai diterapkan dalam pengeditan artikel tertentu, lalu dilanjutkan dengan kebijakan biography of living persons (BLP) yang menetapkan standar lebih tinggi untuk penulisan biografi orang yang masih hidup.

Kisah sukses Wikipedia boleh dikatakan sebagai “pelanggaran” terhadap peran tradisional ensiklopedia sebagai rangkuman sejarah yang sudah berlalu. Terutama dalam edisi bahasa Inggris, Wikipedia berubah menjadi catatan sejarah yang terus dilengkapi setiap saat dan oleh siapa saja.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

The Journeys: Buku yang Bikin Iri Hati

The Journeys

The Journeys, 243 hal, Gagas Media, 2011.

Buku traveling memang selalu membuat saya sirik. Bayangkan, dari semua destinasi wisata yang diceritakan oleh 12 penulis di buku ini ternyata hampir semua belum pernah saya kunjungi alias masih dalam impian.

Jangankan pergi ke benua lain, Karimun Jawa saja –satu dari dua tempat wisata lokal yang masuk buku ini– juga belum sempat saya datangi.

The Journeys, barangkali cukup mencerminkan apa yang disebut kalangan ekonom sebagai makin tebalnya lapisan kelas menengah di negeri ini. Anak-anak muda sekarang memiliki aspirasi yang kuat untuk menjelajah tanah-tanah di seberang samudera.

Buku ini mengajak kita mengunjungi berbagai negara dengan segala sudut keunikan yang telah membetot perhatian para penulisnya. Perhatikan saja beberapa judul ceritanya: Mengejar Mimpi, Kereta Api dan Tapas Andalusia; Melipir ke Tel Aviv; Lucerne: A Morning Kiss Bye from a Stranger, dan seterusnya.

Sebagai buku keroyokan, The Journeys memang terasa warna-warni. Ada yang menulisnya dengan jenaka, tapi ada juga yang setengah berkontemplasi dengan bahasa sedikit rumit.

Buku ini secara tidak langsung membedakan para traveler ke dalam dua “kasta”. Sebagian mereka masih harus susah payah menabung untuk mengongkosi hasrat jalan-jalan dan sibuk mengatur cuti kantor. Tetapi sebagian kecil sudah pada level jalan-jalan dibayar serta independen.

Trinity, pengarang The Naked Traveler, menyumbang satu tulisan menarik di sini: The Truth Behind Free Traveling. Selain profesi lama seperti jurnalis media, menurutnya blogger juga makin sering diajak wara-wiri gratis.

Jangan keliru, The Journeys bukan buku panduan wisata (how to) seperti kebanyakan buku traveling yang banyak tersedia di rak toko buku. Bagi mereka yang ingin belajar bagaimana berkisah tentang sebuah perjalanan, buku ini layak menjadi referensi.

Saya jajan buku ini ketika mengikuti sebuah pelatihan menulis di Ubud, Bali. Meski isinya bikin iri hati, untungnya masih bisa menikmati The Journeys sambil jalan-jalan juga. :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...